Saat menulis
artikel ini , saya teringat masa kecil dulu. Masa yang penuh “kebahagiaan”,
kenapa saya sebut kebahagian?
Karena pada saat itu, saya dengan leluasa bermain dengan sepeda saya, memancing
di sungai, memanjat pohon, berenang di sungai, bermain egrang, ketapel, membuat
pistol-pistolan, dan masih banyak lagi. Saya merasa sangat senang, bahagia dan bebas.
Yang paling saya ingat adalah pada saat saya bermain sepeda dan sepeda itu
tidak ada remnya, tapi saya dengan berani mengayuh sekencang mungkin. Pada saat
itu jalan belum begitu ramai dan belum diaspal, jadi tidak takut ditabrak dan
tidak jatuh. Terus bagaimana berhentinya? Saya mempunyai trik jitu untuk
memberhentikan sepeda saya, yaitu dengan menabrakkannya di pohon yang dibuat
untuk pagar rumah pada waktu itu pohon teh-tehan.
Dengan begitu, sepeda saya
dapat berhenti dengan aman. Pada masa itu kelulusan siswa di sekolah juga tidak
ditentukan oleh ujian yang hanya beberapa mata pelajaran, tetapi kelulusan
lebih ditentukan pada perilaku selama di sekolah.
Masa itu
sering saya bandingkan dengan masa sekarang, masa di mana dunia anak dipenuhi televisi, play station, dan
ujian nasional. Kondisi lingkungan sekarang juga kurang mendukung untuk anak
bermain bebas. Jalan sudah ramai kendaraan bermotor, sebidang tanah untuk
bermain kelereng sudah berubah menjadi sebidang beton dan lapangan sepakbola
sudah menjadi pertokoan yang super mewah. Yang ada hanya tinggal televisi yang
kurang mendidik dan permainan play
station atau game online.


