Pages

Showing posts with label Psikologi Anak. Show all posts
Showing posts with label Psikologi Anak. Show all posts

Tuesday, 24 March 2015

Belajar atau Bermain ?


Saat menulis artikel ini , saya teringat masa kecil dulu. Masa yang penuh “kebahagiaan”, kenapa saya sebut kebahagian? Karena pada saat itu, saya dengan leluasa bermain dengan sepeda saya, memancing di sungai, memanjat pohon, berenang di sungai, bermain egrang, ketapel, membuat pistol-pistolan, dan masih banyak lagi.  Saya merasa sangat senang, bahagia dan bebas. Yang paling saya ingat adalah pada saat saya bermain sepeda dan sepeda itu tidak ada remnya, tapi saya dengan berani mengayuh sekencang mungkin. Pada saat itu jalan belum begitu ramai dan belum diaspal, jadi tidak takut ditabrak dan tidak jatuh. Terus bagaimana berhentinya? Saya mempunyai trik jitu untuk memberhentikan sepeda saya, yaitu dengan menabrakkannya di pohon yang dibuat untuk pagar rumah pada waktu itu pohon teh-tehan. Dengan begitu, sepeda saya dapat berhenti dengan aman. Pada masa itu kelulusan siswa di sekolah juga tidak ditentukan oleh ujian yang hanya beberapa mata pelajaran, tetapi kelulusan lebih ditentukan pada perilaku selama di sekolah.

Masa itu sering saya bandingkan dengan masa sekarang, masa di mana dunia anak dipenuhi televisi, play station, dan ujian nasional. Kondisi lingkungan sekarang juga kurang mendukung untuk anak bermain bebas. Jalan sudah ramai kendaraan bermotor, sebidang tanah untuk bermain kelereng sudah berubah menjadi sebidang beton dan lapangan sepakbola sudah menjadi pertokoan yang super mewah. Yang ada hanya tinggal televisi yang kurang mendidik dan permainan play station atau game online.

Wednesday, 18 March 2015

KONSULTASI PSIKOLOGI ANAK

Tanya :
Assalamu’alaikum. Wr. Wb.
Begini Pak, anak saya kelas 1, kemarin ulangan matematika mendapat nilai yang tidak memuaskan dalam bab mengurutkan angka dari kecil ke besar. Gurunya memberikan cara dengan memberikan kartu angka kecil diberi tanda “K”, sedangkan huruf yang besar diberi tanda “B”. Pada saat mengurutkan angka 1-5, anak saya salah mengurutkannya, padahal di rumah  anak saya ajari mengurutkan angka sampai ratusan bisa. Saya tanya anaknya, kenapa kok bisa salah? Kemudian anak saya menjawab, “huruf K sama huruf B kan duluan huruf B, jadi yang aku urutkan yang huruf B dulu.” Apa karena ada tandanya yang membuat dia bingung ya, Pak? Apa karena konsentrasinya yang kurang? Dari hasil psikotes kemarin memang konsentrasi anak yang saya berada pada level cukup dan  perlu diketahui juga anak saya kelihatannya mempunyai analisa yang kuat, sebagai contoh seperti ini: jika dilarang melakukan sesuatu anak pasti tanya kenapa harus dilarang? Sebabnya apa? Jujur Pak, memang kalau nilai anak saya turun, saya pasti bingung dan panik. Apakah psikotes yang kemarin dilakukan SD Aisyiyah itu hasil final kemampuan anak dan tidak bisa lagi ditingkatkan?
Itu permasalahan yang pertama, yang kedua, saya masih bingung dengan bakat anak saya. Soalnya untuk nanti kelas 3 anak harus mengikuti ekstra bakat minat. Anak saya ikut senang matematika, namun juga senang bergerak aktif. Dalam tes sidik jari, diketahui anak saya juga potensi di musik. Apa sebenarnya potensi anak saya ya, Pak? Biar nanti tepat penyaluran bakat dan minatnya.
Wassalamu’alaikum.Wr.Wb.
Dari : Ibu ND
Jawab :
Oke Bu, kita petakan secara global pertanyaan Ibu dulu. Pertama, apakah anak Ibu kurang konsentrasi dalam menghadapi soal matematika dan bingung sistematika yang diberikan guru. Kedua, apakah psikotes yang dilakukan SD Aisyiyah itu merupakan hasil akhir dari kemampuan anak dan tidak bisa ditingkatkan lagi. Ketiga, apa potensi bakat anak Ibu supaya nanti bisa disalurkan dengan kegiatan bakat minat yang tepat.
Saya akan jawab satu persatu. Pertama, soal matematika, kalau menurut cerita Ibu bahwa anak ini mempunyai kemampuan analisa yang lebih, kemungkinan besar memang anak tidak bisa mengerjakan soal karena ada tanda-tandanya. Sementara tanda-tanda itu tidak berurutan secara abjad, karena analisanya yang menonjol maka ia melihat simbolnya bukan angkanya, ia mengurutkan abjadnya dari  urutan depan ke belakang. Jadi angka yang ada tanda “B” yang diurutkan pertama, hasilnya jadi salah. Mungkin juga karena konsentrasinya yang tidak begitu fokus, namun untuk anak seusia ini memang konsentrasi belum berkembang secara maksimal, anak masih banyak teralihkan perhatiannya karena ada sesuatu yang lebih menarik di sekitarnya. Sebenarnya orang tua tidak perlu panik dan bingung kalau nilai anaknya turun, apalagi baru kelas 1 SD, yang terpenting cari tahu apa penyebab nilainya turun dan jangan sampai memarahi anak jika nilainya turun. Pendidikan anak bukan hanya nilai saja Bu, nilai tetap penting namun jangan sampai nilai itu melenakan kita untuk mengabaikan pendidikan kepeduliannya, kejujuran, tanggungjawab, kreatifitas, kemandirian, atau dengan kata lain jangan sampai kita lupakan pendidikan akhlaknya. Jangan sampai anak kita pintar matematika tapi ketika membuang sampah sembarangan. Itu yang terjadi di Indonesia, banyak orang pintar di negara ini namun sungai tetap saja kotor dengan sampah-sampah.
Kedua, psikotes yang kemarin diadakan SD Aisyiyah merupakan tes psikologi untuk mengetahui seberapa siap anak memasuki jenjang sekolah dasar, pada inti mengetahui kondisi awal anak pada masa sekolah dasar. Apa bisa ditingkatkan? Sangat bisa, karena anak pada masa ini baru berkembang otak dan fisiknya. Ibarat penelitian, psikotes ini sebagai pre tes atau tes sebelum penelitian. Dari tes ini akan bisa ditentukan bagaimana perlakuan yang terbaik untuk anak tersebut, dan anak berbeda-beda perlakuannya.
Ketiga, memang bakat minat seorang anak itu agak begitu sulit untuk dibedakan, karena anak masih sering dipengaruhi oleh teman-temannya. Sebagai contoh begini, anak berbakat di seni lukis tapi karena teman-temannya suka sepakbola maka ia ikut-ikutan sepakbola. Memang ini harus orangtua yang lebih jeli melihat bakat si anak, terlebih lagi bagi ibu, karena ibu dari lahir lebih sering bersama anak. tes sidik jari atau psikotes yang lain itu sebagai acuan, tetapi yang paling utama adalah pengamatan sehari-hari, anak pandai dalam bidang apa dan menikmatinya. Salah satu ciri-ciri anak itu berbakat, si anak tertarik, cepat menguasai bidang itu, menikmatinya dan tidak mudah bosan kalau dilakukan berulang-ulang. Perlu diketahui bahwa bakat anak tidak hanya satu, akan tetapi ada beberapa yang menonjol pada setiap anak. dengan diketahui bakatnya anak akan tersalurkan keinginannya dan akan menjadi profesi nanti atau kalau tidak pun, bisa menjadi hobi yang akan ditekuninya sampai tua nanti. Penyaluran hobi  ini  adalah salah satu yang membuat hidup anak lebih hidup, semangat, dan menikmati.

Ini masukan dari saya bu, semoga bermanfaat, mari kita saling berbagi pengalaman. Semoga anak Ibu menjadi anak yang cerdas, berakhlak mulia dan menikmati hidupnya.

Tuesday, 17 March 2015

FAMILY TIME IS QUALITY TIME (WAKTU BERSAMA KELUARGA ADALAH WAKTU YANG BERKUALITAS)


Sebagai manusia jaman modern ini, orang-orang dituntut untuk bekerja dari pagi hingga sore. Tidak hanya bapak-bapak sebagai suami, akan tetapi juga ibu-ibu ikut untuk bekerja karena tuntutan hidup yang semakin tinggi. Alhasil anak-anak akan dititipkan pada pembantu atau tampat penitipan anak. Apakah ini akan berdampak pada kedekatan anak dengan kedua orangtua? Tetap berdampak yang kurang untuk kedekatan anak dan orangtuanya tetapi hal ini bisa disiasati.

Sebelum membahas itu, mari kita renungkan terlebih dahulu mengapa orangtua harus dekat secara emosi dengan anak, bukan hanya fisik. Kedekatan ini terkadang terlupakan karena orangtuanya sibuk mengejar karir dan kedekatan itu tidak hanya dengan ibu akan tetapi juga dengan ayah. Banyak anggapan bahwa juga mengasuh itu tugas ibu, sedangkan ayah yang mencari nafkah, anggapan ini seharusnya mulai sekarang kita hapus perlahan-lahan. Anak butuh dekat dengan dengan kedua orangtuanya, sesibuk apapun orangtuanya. Kondisi ini menuntut peranan yang lebih buat ayah dan ibu yang bekerja.  Di media sosial baru ramai bahwa Indonesia adalah negara yang tidak punya ayah, ayah hanya bekerja mencari uang dan tidak mengasuh maupun mendidik anak. Anak-anak di Indonesia cenderung kehilangan sosok ayah yang mencontohkan ketegasan, percaya diri, dan lain sebagainya. Ditambah lagi sekarang banyak ibu-ibu yang bekerja, ini akan berdampak kurang baik untuk kedekatan anak.