Pages

Tuesday, 17 March 2015

FAMILY TIME IS QUALITY TIME (WAKTU BERSAMA KELUARGA ADALAH WAKTU YANG BERKUALITAS)


Sebagai manusia jaman modern ini, orang-orang dituntut untuk bekerja dari pagi hingga sore. Tidak hanya bapak-bapak sebagai suami, akan tetapi juga ibu-ibu ikut untuk bekerja karena tuntutan hidup yang semakin tinggi. Alhasil anak-anak akan dititipkan pada pembantu atau tampat penitipan anak. Apakah ini akan berdampak pada kedekatan anak dengan kedua orangtua? Tetap berdampak yang kurang untuk kedekatan anak dan orangtuanya tetapi hal ini bisa disiasati.

Sebelum membahas itu, mari kita renungkan terlebih dahulu mengapa orangtua harus dekat secara emosi dengan anak, bukan hanya fisik. Kedekatan ini terkadang terlupakan karena orangtuanya sibuk mengejar karir dan kedekatan itu tidak hanya dengan ibu akan tetapi juga dengan ayah. Banyak anggapan bahwa juga mengasuh itu tugas ibu, sedangkan ayah yang mencari nafkah, anggapan ini seharusnya mulai sekarang kita hapus perlahan-lahan. Anak butuh dekat dengan dengan kedua orangtuanya, sesibuk apapun orangtuanya. Kondisi ini menuntut peranan yang lebih buat ayah dan ibu yang bekerja.  Di media sosial baru ramai bahwa Indonesia adalah negara yang tidak punya ayah, ayah hanya bekerja mencari uang dan tidak mengasuh maupun mendidik anak. Anak-anak di Indonesia cenderung kehilangan sosok ayah yang mencontohkan ketegasan, percaya diri, dan lain sebagainya. Ditambah lagi sekarang banyak ibu-ibu yang bekerja, ini akan berdampak kurang baik untuk kedekatan anak.

Monday, 16 March 2015

Hargailah Air !


Air merupakan sumber kehidupan seluruh makhluk hidup di dunia ini. Manusia sangat membutuhkan air dalam kehidupan sehari-hari, begitu juga dengan tanaman dan hewan. Sebab air mempunyai peran penting untuk keberlangsungan hidup,  tanggal 22 Maret 1992 pada Konferensi PBB tentang Lingkungan dan Pembangunan di Rio de Janeiro, Brasil, diusulkan untuk menjadi hari peringatan air sedunia (world water day).
Diharapkan dengan adanya hari air sedunia, bisa menyadarkan manusia untuk bisa memanfaatkan air dan pengelolaan air secara benar, serta dapat melakukan tindakan-tindakan untuk menyelamatkan air. Bukan hanya melalui kampanye-kampanye tentang hemat air atau menjaga air bersih, dalam keseharianpun juga harus menanamkan perilaku untuk terus menjaga air agar selalu bersih dan melimpah.

Menanam Keshalehan Memetik Kemudahan

Setiap orang tua tentu memiliki ”cita-cita besar” bagi anak-anaknya. Deretan harapan kepada mereka melahirkan cinta yang tak pernah bertepi. Doa-doa yang  terlantun, menggema hingga menggetarkan langit, menyambut kelahiran sang jabang bayi. Kehadirannya di tengah keluarga menjadi sebuah pinta “menjadi anak shaleh/shalehah” meski dengan versi yang tak sama. Allah SWT telah memerintahkan kepada kedua orangtua, di dalam Q.S. An-Nisa : 9  terhadap masa depan anak–anaknya agar selalu bertakwa, beramal shaleh, beramar ma’ruf nahi mungkar, dan berbagai macam amal ketaatan lainnya, sehingga dengan amalan-amalan itu, Allah SWT akan menjaga anak cucunya.

 
Seorang anak yang melihat ayahnya selalu berdzikir, mengucapkan tahlil, tahmid, tasbih, dan takbir niscaya akan menirunya mengucapkan kalimat-kalimat tersebut. Seorang anak melihat ayahnya berpuasa setiap hari Senin dan Kamis, melaksanakan shalat jumat, dan jama’ah, tidak sama dengan anak yang melihat kebiasaan ayahnya nongkrong di depan televisi atau hal lain yang menyia-nyiakan waktu. Seorang anak yang diajari shalat, belajar, dan mengaji, tidak sama dengan anak yang dibiasakan nonton televisi, main game, musik, dan hura-hura. Ibarat pepatah ”buah jatuh takkan jauh dari pohonnya”.  Anak-anak itu pasti akan meniru perilaku yang sering mereka lihat dan dengar dari orangtuanya.